Senin, 15 Juli 2019

Mengatasi Trauma Karena Orang Tua yang Bercerai

Dalam sebuah acara kajian Pra Nikah yang diselenggarakan di Kota Tangerang pada 07 Juli 2019 dengan tema, "Menjemput Jodoh yang Tak Kunjung Tiba" ada beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh peserta. Pertanyaan tersebu dijawab pada saat acara, dan ada juga yang dijawab melalui WA karena keterbatasan waktu. Berikut salah satu pertanyaan dan jawaban dari saya.

Tanya:
Bagaimana cara mengatasi trauma yang dialami di keluarga ( orang tua cerai ) dalam mencari jodoh, karena ada ketakutan rumah tangga saya kelak akan seperti ketakutan (pisah cerai) itu ?

Jawab:Secara sederhana trauma didefinisikan sebagai ketakutan yang berlebih yang disebabkan oleh kejadian buruk yang membekas dan menggangu. Keadaan trauma seseorang juga bisa berbeda-beda tergantung seberapa parah atau seberapa buruk kejadian yang menimpanya.

Sabtu, 13 Juli 2019

HUKUM SEPUTAR NUSYUZ

Oleh : K.H Drs. Hafidz Abdurrahman, MA

Nusyûz adalah pelanggaran istri terhadap perintah dan larangan suami secara mutlak. Jika seorang istri tidak melakukan kewajiban semisal shalat, atau melakukan keharaman seperti tabarruj (berpenampilan yang menarik perhatian lelaki lain), maka seorang suami wajib memerintahkan istrinya untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman tersebut. Jika tidak mau, berarti dia telah melakukan tindakan nusyûz. Dalam kondisi seperti ini, seorang suami berhak untuk menjatuhkan sanksi kepada istrinya. Dia juga tidak wajib memberikan nafkah kepada istrinya. Jika istrinya telah kembali, atau tidak nusyûz lagi, maka sang suami tidak berhak lagi untuk menjatuhkan sanksi kepada istrinya, dan pada saat yang sama dia pun wajib memberikan nafkah istrinya.

Selasa, 09 Juli 2019

MENOLAK SYUBHAT-SYUBHAT ANTI POLIGAMI

OLEH : KH. M. SHIDDIQ AL JAWI

Berikut ini adalah bantahan terhadap beberapa syubhat-syubhat yang pada pokoknya adalah anti poligami.

Syubhat Pertama : Katanya Poligami Hanya Boleh Dalam Kondisi Darurat

Ada orang yang menolak poligami dengan ungkapan bahwa poligami adalah "emergency exit door" (pintu keluar darurat).

Ini tidak benar dan tidak sesuai dengan pengertian darurat dalam fiqih dan ushul fiqih.

Darurat menurut Imam Suyuthi dalam kitabnya al-Asybaah wa an-Nazhaa`ir fi al-Furuu’, adalah "sampainya seseorang pada suatu batas (kondisi) yang jika dia tidak mengerjakan yang haram, maka dia akan mati atau hampir mati" (wushuuluhu haddan in lam yatanaawal al-mamnuu’ halaka aw qaaraba).

Ini artinya, seorang laki-laki baru boleh berpoligami kalau sudah payah sekali keadaannya, yakni hampir mati kalau dia tidak berpoligami. Wah, kalau begitu kasihan sekali ya seorang laki-laki yang mau poligami. Ini tentu cukup menggelikan dan tidak benar.