Rabu, 05 Desember 2018

Semut Apa yang Badannya Kecil Kepalanya Gede?

eluarga memiliki beberapa fungsi yang semestinya berjalan. Ada fungsi ekonomi, tempat anggota keluarga memenuhi keburuhan ekonominya. Ada fungsi religi dimana keluarga bisa mendorong anggota keluarganya menjalankan kewajiban agamanya. Ada fungsi sosial di mana anggota keluarga bisa memiliki status sosial yang jelas di masyarkat. Fungsi afektif dimana angggota keluaga bisa mendapatkan perlindungan di dalamnya. Dan juga fungsi rekreatif, dimana keluarga bisa menjadi menjadi tempat hiburan bagi tiap anggota keluarganya. Bila fungsi rekreatif ini berjalan berjalan, maka anak akan merasa betah tinggal di rumah,  Istri maupun suami juga merasa nyaman tinggal di rumah.

Jika salah satu di antara fungsi-fungsi tersebut tidak berjalan, maka keretakan bahkan kehancuran rumah tangga tak bisa terhindarkan

Berbicara mengenai fungsi rekreatif, agar dalam keluarga fungsi ini bisa berjalan tidak harus mengeluarkan biaya yang banyak. Dengan tetap tinggal di rumah, tanpa pergi ke tempat wisata, asal kreatif orang tua bisa berperan memberikan hiburan bagi anak-anaknya.

Sudah masyhur bahwa Rosulullah Muhammad SAW yang pernah melakukan lomba lari dengan istrinya. Rosulullah SAW juga pernah bermain kuda-kudaan dengan cucu beliau.

Bahkan Rosulullah SAW ternyata pernah bersenandung / bersyair saat bersama dengan istrinya. 
Aisyah r.a meriwayatkan, 
“Seorang bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah Nabi SAW. Pernah melantunkan sebuah syair?’ “Aisyah menjawab, ‘Beliau pernah melantunkan syair Ibnu Rawahah yang berbunyi, [Waya’tika bil akhbaari man lam tuzawwid] artinya, “Dan akan datang kepadamu orang membawa kabar tanpa engkau beri ia bekal” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Bukhari, Ibnu Sa’d, dan Thabrani)

Ini adalah teladan agung dari keluarga agung Rosulullah. Betapa memberikan hiburan bagi anggota keluarga merupakan kebutuhan, bahkan untuk mewujudkannya ternyata tidaklah harus dengan yang biaya yang mahal.

Beberapa cara bisa kita pilih untuk memberikan hiburan kepada anak-anak. Mulai dari mengajak bermain layang-layang. Bermain bola di lapangan umum, bersepeda keliling lapangan atau jika ingin tidak keluar rumah, bisa dengan cara membacakan cerita inspiratif, bermain karambol, bersenda gurau dengan permainan atau bermain tebak-tebakan bisa dipilih sebagai sarana hiburan yang murah tapi efektif mendekatkan hubungan anak dengan orang tuanya.

Berdasarkan pengalaman pribadi, bermain tebak-tebakkan sangat efektif mendekatkan antar anggota keluarga. Baik antara orang tua dengan anak maupun anak yang satu dengan anak yang lainnya. Sekedar berbagi, pada satu kesempatan beberapa waktu silam, di saat berkumpul dengan anak sembari menikmati makanan kecil, saya pernah mengajak anak main tebak-tebakan.

“Telor apa yang diinjak tidak pecah?” saya memberikan pertanyaan.
Kedua anak saya pun berlomba menjawab pertanyaan tersebut. Ada yang menjawab 
“Telor plastik”. 
Ada yang menjawab, “Telor ajaib”. 
Namun, jawaban mereka kemudian saya mentahkan. Begitu saya jawab, ‘Telor yang yang diinjak tidak pecah adalah Telor Toar” Anak-anak langsung protes tanda tidak setuju. Meski tidak setutuh, suasana menjadi cair dan akrab dengan wasilah  tebak-tebakan tersebut. Pada kesempatan lainnya, rupanya anak saya ingin membalas “Dendam”.

Saat kembali berkumpul bersama, anak saya gantian memberikan pertanyaan, 
"Bi (Ayah), Semut apa yang badannya kecil, tapi kepalanya gede”. 
Saya coba jawab, namun ternyata disalahkan oleh anak saya. Setelah menyerah, akhirnya anak saya menjawab, 
"Semut keselek jengkol”. 
Gelak tawapun pecah, menghangatkan suasana keluarga. Meski tidak terbayang seperti apa semut makan jengkol hingga bisa keselek, namun namanya tebak-tebakkan akhirnya diterima jawaban tersebut dengan legowo. Skor pun berubah 1-1.

Begini cara saya menghangatkan suasana keluarga. Lantas bagaimana cara keluarga anak menjalankan fungsi rekreatifnya? Semoga lebih keren dan kreatif lagi.

Allahua'lam

Mabsus Abu fatih
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar