About

Selasa, 03 Januari 2017

Inilah Teguran Untuk Khalifah Harun Ar-Rasyid

oleh : Mustaqim Abu Jihad

Anak adalah anugerah. Kehadirannya laksana buah yang dinanti pada saat musim panen tiba. Alangkah indahnya hidup berkeluarga ketika Allah Ta’ala memberikan amanah berupa buah hati yang tumbuh ditengah-tengah kita. Namun, ketika Allah Ta’ala sudah memberikannya terkadang kita lalai dalam membersamai buah hati kita. Kita justru lebih sering tersibukan dengan kerjaan diluar sana dan mengabaikan kerja kebaikan dalam rumah tangga.
Seringnya, anak-anak kita hanya mendapatkan jatah sisa dari waktu yang kita punya. Seringnya, anak-anak kita hanya dianggap sebagai pelengkap dalam keluarga, bukan pokok utama yang mesti disemai dengan cinta dan kasih sayang. Lelah, menjadi alasan klasik untuk para orangtua enggan membersamai anaknya ketika di rumah. Letih, kadang menjadi hambatan orang tua untuk mendengarkan celoteh buah hatinya.

Sibuk cari uang untuk mencari uang untuk menafkahi anak, katanya. Faktanya, anak tidak sekedar butuh nafkah lahiriyah saja, tapi batinnya pun mesti diberi pupuk-pupuk cinta agar ia bertumbuh menjad pribadi yang baik ketika menginjak usia dewasa.
Karenanya, izinkan saya yang faqir ini menyampaikan kisah tentang Buhul, seorang kerabat Khalifah Harun Ar-Rasyid yang Allah berikan ilmu pengetahuan tentang agama-Nya. Kisah ini dinukil dari buku “Saat berharga untuk anak kita” karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim.
Suatu hari,  ketika Buhul sedang asik bermain bersama anak-anak. Harun Ar-Rasyid memanggilnya dan berkata, “Apa yang engkau lakukan?”
Saya bermain bersama anak-anak, dan membuat rumah dari tanah liat,” jawab Buhul.
Mendengar hal itu, Harun Ar-Rasyid berkata, “Engkau sangat mengherankan. Engkau tinggalkan dunia beserta isinya.”
Buhul menjawab, “Justru engkau yang sangat mengherankan. Engkau tinggalkan akhirat beserta isinya.”
Teguran Buhul kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid seolah mengambarkan bahwa pembinaan terhadap anak merupakan bekalan akhirat untuk para orangtua. Membersamainya dalam sebuah permainan, ibarat memupuk kepercayaan terhadap orangtua. Bukankah kita tidak menginginkan anak-anak kita kelak menjadi anak yang durhaka? Maka, bermain bersama adalah sarana untuk menjalin kedekatan emosional dengan sang anak. Agar kelak anak-anak kita senantiasa nyaman bercerita kepada ayah dan bundanya saat ia tengah mengalami masalah.
Bukankah kelak kita pun akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta’ala apabila gagal dalam mendidik anak? Apakah kita ingin mereka menjadi penghalang masuk surganya para orangtua? Innalillahi wainnailaihi raajiunn.
Semoga, kita dapat mengambil pelajaran dai kisah ini. Bahwasannya, anak merupakan investasi kita untuk kehidupan akhirat. bukan sekedar masalah duniawi saja, namun mendidik anak merupakan dakwah nyata para orang tua untuk melahirkan generasi-generasi Rabbani.
Allahu’alam bishawab.

0 komentar:

Posting Komentar