Sabtu, 25 Juni 2016

Pelajaran dari Kisah Inilah Suami Bercahaya

Ilustrasi Mubarak 
anak-sholeh.com - Namanya adalah Nuh bin Maryam. Ia adalah seorang gubernur sekaligus qadhi (hakim) di sebuah kota Islam bernama Marwa. Seperi layaknya seorang pejabat, Nuh bin Maryam hidup dalam keberlimpahan harta. Kenikmatan itu semakin lengkap dengan hadirnya seorang putri yang terkenal dengan kecantikannya yang luar biasa. Satu demi satu para pembesar datang untuk mempersuntingnya, namun tak seorang pun yang berkenan di hati.

Di istana tempatnya tinggal, sang gubernur memiliki seorang budak yang berasal dari India. Budak itu berkulit gelap, namun sangat taat beribadah. Budak India itu bernama Mubarak. Dan karena sang gubernur memiliki sebidang kebun yang cukup luas, ia menyerahkan urusan kebun itu kepada sang budak. “Pergi dan jagalah kebun itu baik-baik!” ujarnya.


Tidak terasa, sebulan berlalu. Dan di suatu pagi yang cerah, sang gubernur mengunjungi kebuh yang dijaga oleh Mubarak itu. Di sana, sang gubernur tergiur melihat buah anggur yang segar bergelantungan di pohonnya.

Mubarak, ambilkan untukku setangkai anggur dari pohon itu!" Titahnya.
Si Budak lalu memetik setangkai anggur dan menyodorkan kepada sang gubernur. Ternyata anggur itu terlalu masam rasanya. “Coba berikan satu tangkai lagi untukku, Mubarak!” perintah Gubernur.

Mubaraka, budak itu kemudian menyodorkan setangkai yang lain kepada sang gubernur. Namun lagi-lai setelah Gubernur mencobanya, ternyata rasanaya sama saja dengan tangkai yang pertama.

Gubernur mulai  kesal. “Mengapa di antara sekian banyak anggur yang menghampar ini, engkalu selalu mengambilkan yang masam untukku??" Tanyanya.

Karena hamba tidak tahu mana yang masam dan mana yang manis, Tuan.” Jawab Mubarak.

Subhanallah!! Bagaimana bisa? Engkau telah tinggal di sini selama sebulan lamanya, tapi engkau mengatakan bahwa engkau sama sekali tidak mengetahui mana yang masam dan mana yang manis?! Ujanr sang gubernur penuh keheranan.

“Anda benar, Tuan. Itu semua karena hambat tak pernah sekalipun mencicipinya, maka hamba tidak tahu mana yang manis dan mana yang masam, Tuan,” jawab Mubarak.
“Mengapa engkau tidak mencicipnya?!” tanya Gubernur semakin heran.

“Sebab Tuan anya menyuruhku menjaganya, dan tidak menyuruhku untuk mencicipinya. Dan kau tidak mungkin menghianati perintah Tuan,” jawab Mubarak dengan tenang.

Mendengar kata-kata yang terakhir, sang gubernur sadar bahwa budak itu pria yang sangat cerdas. Setelah cukup lama terdiam, sang gubernur berkata kepada budaknya itu” “Wahai Mubarak, aku punya suatu permintaan kepadamu, dan engkau harus melaksanakan layaknya engkau menjalankan setiap perintahku.”

“Aku akan menaati Allah, lalu setelah itu baru menaati Anda, Tuan...,”jawab Mubarak.

“baiklah, Mubarak. Aku memiliki seorang putri. Entah sudah berapa banyak pria yang datang melamarnya, namun aku bimbang untuk memilih salah satu dari mereka. Tolong berikan aku pandanganmu dalam persoalan ini...,” ujar sang gubernur.

Mubarak, si budak India itu terhenung sejenak. Lalu ia berkata dengan tenang.

“Tuan gubernur, dahulu orang-orang jahiliyah selalu menjadikan gari keturunan, kekayaan dan kedudukan sebagai ukuran. Sementara orang-orang Yahudi menjadikan ketampanan dan kecantikan sebagai ukuran untuk sebuah pernikahan.

Namun ketika Rasulullah SAW hadir ke dunai, orang-orang beriman kemduian menentukan pasangan hidup mereka bedasarkan agama dan ketakwaan. Hingga akhinrya tibalah zaman hari ini, di mana orang-orang menjadikan hata dan kekayaan sebagai ukuran untuk sebuah pernikahan.

Maka, Tuan gubernur, silahkan Anda memilih dengan cara apakah Tuan akan memilihkan pasanganan untuk putri kesayangan Tuan itu. Tuan dapat memilih salah satu dari 4 tolok ukur itu...”

Sungguh dalam. Dan sang gubernur terhenyak dalam diam. Ia termenung. Lalu ia segera sadar dari lamunannya dan berujar: “Mubarak, sudah tentu aku akan memilih berdasarkan agama, ketakwaan dan amanahnya!! Dan aku putuskan untuk memilihmu sebagai pasangan putri kesayanganku karena semua hal itu kutemukan padamu!”

Kini budak India itu yang terhenyak dan terkejut.

“Tapi mengapa saya, Tuan??! Saya ini hanya seorang budak hitam, yang Tuan beli dengan harta Tuan. Mengapa Tuan ingin menikahkan saya dengan putri kesayangan Anda?? Apa mungkin ia akan menerima saya sebagai suaminya??!! Tanyanya benar-benar heran.
Gubernur tidak menggubris keheranannya. “Berdirilah, dan ayo kita segera ke istanaku untuk menyelesaikan urusan ini!”

Sepanjang jalan, Mubarak belum bisa menghapus keterkejutan hatinya. Namun sang Gubernur tak bergeming lagi. Setibanya sang gubernur di istananya, ia segera memanggil istrinya.

“Istriku, aku telah menemukan siapa pria yang akan menjadi pasangan hidup putri kita...,” ujarnya.

“Benarkah, suamiku??” tanya sang istri dengan wajah sumringan senang.
“Benar. Pria itu seorang yang sangat taat beribadah. Sangat takut kepada Allah. Sangat menjaga amanah yang diberikan padanya. Dan aku sungguh menyukai keshalihannya.  Itulah sebabnya, aku ingin segera menikahkannya dengan anak kita....” jelas sang gubernur.
“Siapakah gerangan pria itu, suamiku?” tanya sang istri semakin penasaran.
“Dia adalah Mubarak, istriku...”
“Mubarak? Maksudmu, Mubarak budak penjaga kebuh kita suamiku??”
“Benar, istriku. Bagaimana menurutmu?”

Sang istri terdiam sejenak. Namun tak lama.
“Suamiku, semuanya kuserahkan padamu. Namun izinkanlah aku enyampaikannya terlebih dahulu kepada putri kita,” jawab sang istri.
Dan sungguh di luar dugaan. Ketika hal itu disamapikan kepada sangg putri, tanpa ragu sedikitpun ia menerimanya.

“Apapun yang ayah dan ibu titahkan akan aku jalankan. Aku tidak akan menolaknya, karena aku ingin selalu berbakti kepada ayah dan bunda,” jawab sang putri tanpa ragu.
Maka sempurnalah semuanya. Sang budak India itupun dibebaskan. Dan di hari yang telah ditentukan, Mubarak –sang budak India itu- akhirnya menikahi putri cantik kesayangan gubernur kota Marwa yang kesohor itu.

Dan perjalanan waktu lalu membuktikan bahwa pernikahan itu benar-benar diberkahi Allah. Pernikahan penuh berkah itu melahirkan seorang putra yang luar biasa. Seorang putra yang dikemudian hari dikenal sebagai seorang ulama Hadis besar, ahli ibadah yang zuhud dan mujhaid di jalan Allah. Nama putra mereka yang luar biasa itu adalah Al-Imam ‘Abdullah bin Mubarak. Benar, ia adalah ‘Abdullah putra Mubarak.[] Selesai

Kisah tersebut saya ambil dari artikel berjudul Inilah Suami Bercahaya pada buku “Teladan untuk Ananda” karangan Muhammad Ihsan Zainuddin, tebitan Sukses Publishing. 

Kisah tersebut mengandung beberapa pelajaran yaitu:
1. Anak yang sholeh akan terlahir dari orang tua yang sholeh. Kesolehan Abdullah bin Mubarok, seorang ulama besar ahli hadis ternyata diawali dari orang tua yang juga sholeh.
2. Ilmu akan mengangkat derajat seseorang. Lihatlah bagaimana sang budak, Mubarak yang kemudian menjadi tempat bertanya sang gubernur setelah diketahui keilmuan dan kecerdasan sang budak.

Namun, sayangnya sang penulis buku "Telada untuk Ananda" lupa mencantumkan sumber utama, dari mana tulisan tersebut berasal. Sang penulis juga lupa untuk mencantumkan daftar pustaka sehingga cerita tersebut kurang kuat sandarannya, meski tetap ada kemungkinan benar adanya. Allahua'alam bishowab.

Semoga bermanfaat,
Sabtu, 20 Romadhon 1437 H / 25 Juni 2016


Mabsus Abu Fatih

Tanggapan Anda
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar