Sabtu, 25 Juni 2016

Beginilah Bakti Rosulullah Kepada Orang Tua

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam adalah suri teladan yang baik bagi kaum Muslimin dalam segala hal sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur’an: 
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah (QS al-Ahzab [33]:21.)
Beliau bisa dijadikan sebagai teladan yang baik bagi seorang pendidik, beliau bisa juga dijadikan teladan yang baik bagi seorang pemimpin, beliau bisa juga dijadikan teladan yang baik bagi pemimpin pasukan perang, beliau bisa juga dijadikan teladan yang baik bagi kepala rumah tangga, beliau bisa juga dijadikan teladan yang baik bagi seorang majikan, bahkan bisa juga dijadikan teladan bagi seorang anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya.

Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam ditinggal wafat Ibudanya, Aminah pada usia 6 tahun[1] sementara ayahnya, Abdullah wafat ketika Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallammasih di dalam kandungan Ibunya, Aminah. [2]. Namun, kita tetap bisa mengetahui bakti Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallamterhadap orangtuanya baik orangtua kandung maupun orang tua susuannya. Berikut di antaranya:
Menziarahi makam ibunya, Aminah .
Ibnul Jauzi dalam al-Wafa [3] mengetengahkan hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwasannya Rosulullah SAW mengunjungi makan Ibunya. Ini memberikan pelajaran kepada kita yang ingin berbakti kepada kedua orang tua harus sering berziarah ke makam orang tua yang sudah meninggal.
Memuliakan dan memerhatikan nafkah Ibu susuannya, Tsuwaibah.
Wanita yang pertama kali menyusukan Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallamadalah Tsuwaibah [4], budak Abu Lahab, meski hanya dalam beberapa pekan.
Setelah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam menikah dengan Khadijah, Tsuwaibah pernah mengunjungi rumah beliau. Padahal ketika itu, Tsuwaibah masih berstatus sebagai hamba sahaya. Setelah hijrah, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam sering mengirim sandang dan pangan kepada Tsuwaibah sampai akhir hayatnya, yaitu setelah penaklukan kota Khaibar.  Tidak diketahui apakah dia masuk Islam atau belum. Subhanallah, meski hanya beberapa pekan menyusui Rasulullah, namun penghormatan Rosulullah saw. sedemikian rupa. Semestinya kita yang sudah disusui oleh Ibu kita lebih lama dari Tsuwaibah menyusui Rasulullah memulikan orang tua kita sebagaimana Rosulullah contohkan.
Menyelesaikan Persoalan Ekonomi Ibu (susuan)nya, Halimah
Setelah Tsuwaibah, perempuan yang menyusui RosulullahShallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Halimah binti Abu Dzu’aib yang berasal dari kalangan Bani Sa’ad bin Bakar. Diriwayatkan bahwa Halimah mengunjungi NabiShallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah beristrikan Khadijah Radhiallahu ‘Anha. Halimah mengadu kepada Nabi mengenai kekeringan kota dan kematian binatang ternak. Maka Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam membincangkan masalah ini kepada Khadijah. Lalu, Khadijahmemberikan 40 kambing dan 40 unta lengkap dengan pelananya kepada Halimah. Selanjutnya, Halimah mengunjungi beliau lagi setelah Islam tersiar.Ia berserta suaminya masuk Islam dan mereka membaiat Nabi. [5]
Dari Muhammad bin Al-Munkadir, ia berkata, “Seorang wanita mengetuk rumah Rasulullah. Ia pernah menyusukan beliau.  Ketika wanita itu masuk ke dalam rumah, Rasul berseru, “Ibu!Ibu!”Nabi segera mengambil surbannya lalu membentangkannya untuk wanita itu. Maka ia duduk di atas surban tersebut” [6]
Lihatlah bagaimana Rosulullah berusaha menyelesaian persoalan ekonomi Ibu (susuan) beliau?. Riwayat ini sekaligus memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa semestinya sepasang suami istri tidak membedakan mana urusan orang tua dan mana urusan mertua karena pada hakekatnya sama saja.
Semoga kita bisa meniru Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallamdalam berbakti kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita khususnya lagi orang tua. Aamiin.
Tangerang, 21 Ramadhan 1437 H / 25 Juni 2016


Mabsus Abu Fatih


CATATAN KAKI
[1]Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah.Jakarta, Pustaka al-kautsar, 2012.Hal. 48.
[2]Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta, Litera AntarNusa, 2010. Hal. 49
[3]Ibnul Jauzi, Al-Wafa Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad SAW (terj), Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2010.Hal. 96
[4]Lihat al-Wafa hal 83.
[5]Ibnul Jauzi, Al-Wafa Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad SAW (terj), Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2010.Hal. 92
[6]ibid
Tanggapan Anda
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar