Minggu, 29 Mei 2016

Mitos Keliru Para Ayah

mitos keliru para ayah
Mitos Keliru Para Ayah - SELAIN sebagai suami, seorang pria juga berperan ganda sebagai seorang ayah -jika Allah SWT memberikan karunianya berupa anak tentunya. Seperti halnya suami, seorang ayah juga banyak yang termakan dengan mitos-mitos keliru soal ayah. Melengkapi tulisan sebelumnya, Mitos-mitos Keliru Para Suami yang masih bersumber kepada buku Sukses Jadi Suami & Ayah, karya Ust. Iwan Januar, berikut mitos-mitos keliru soal ayah:
1. Mengasuh Anak adalah Tugas Ibu. Tidak sedikit suami dan ayah yang masih berpandangan seperti ini kebanyakan pria beranggapan tugas suami adalah mencari nafkah, dan kasih sayang pada keluarga itu ditunjukkan dengan pemberian nafkah yang melimpah.

Padahal itu adalah salah. Anak-anak kita juga membutuhkan kebersamaan dengan ayahnya, seperti bermain bola, membaca cerita, atau mengajarinya matematika. Peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu.Nabi saw. Bersabda (yang artinya): “Tidaklah setiap manusia lahir melainkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani.” (HR Imam Bukhari)
Hadits tersebut nampak jelas bahwa yang berperan merubah anak adalah kedua orang tua, ayah dan ibunya.
2. Bermain dengan anak tidak berrmanfaat bagi perkembangan mental mereka. Sebagian ayah berpendapat bahwa permainan itu sia-sia. Bahkan ada yang percaya kalau bermain dengan anak akan menurunkan wibawa seorang ayah di hadapan anak-anak mereka. Ada juga sebagian ayah yang tidak mau memberikan mainan pada anak-anak mereka. Khawatir membuat mereka manja, alasannya. Padahal alat dan saran bermain bagi anak bermanfaat untuk perkembangan mental anak, selama tidak berbahaya bagi fisik dan mentalnya.
Rasulullah saw. Sering mengajak cucu-cucunya, Hasan dan Husayn ra. Bermain bersama. Demikian pula para sahabat pun tidak merasa malu bermain dengan putra-putra mereka. Jadi, mengapa tidak mulai bermain dengan anak-anak kita.
3. Mengajak anak-anak silaturahmi tidaklah penting. Ada kecenderungan orang tua membiarkan anak-anak mereka tidak terlibat dalam acara keluarga besar atau silaturahmi. Melakukan kunjungan silaturahmi memang hukumnya sunnah. Akan tetapi bukan berarti kita pantas menyepelekannya. Banyak keutamaan dan manfaat dari kunjungan silaturahmi. Di antaranya Rasulullah saw. Bersabda : [Man Sarrohu an yubsatho lahu fiy rizqihi aw yunsaa lahu fiy atsarihi falyashil rohimahu]. yang artinya: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizikinya, dan dipanjangkan (diberkahi) umurnya hendaklah ia menyambungkan silaturahmni” (HR. Bukhari)
4. Agar mendapatkan wibawa maka bersikaplah dingin dank eras kepada anak.
Ada sebagian ayah yang sulit untuk tertawa tergelak-gelak bersama anak, atau bercanda konyol dengan mereka. Menurut mereka hal itu bisa menjatuhkan wibawa seorang ayah di depan anak-anak. Nah, agar berwibawa maka seorang ayah harus bersikap dingin dan jika perlu keras kepada anak-nak mereka.
Tentu saja ini adalah mitos yang konyol. Seorang anak justru amat bergembira jika bisa bermain bersama ayah dan ibu mereka. Bermain bersama mereka sama sekali tidak akan menjatuhkan pernghormatan anak-anak pada orangtuanya. Justru sebaliknya, semakin memperkuat emotional bonding antar anggota keluarga keluarga. Anak kian percaya bahwa orang tua mencintai mereka dengan tulus dan sepenuh hati.
Banyak permainan yang bisa dimainkan beersama anak seperti ‘menunggang kuda’, yaitu anak-anak menunggani ayahnya. Permainan ini amat klasik bahkan juga dimainkan Rasulullah saw. Bersama cucu beliau, Hasan dan Husayn ra. Ada juga permainan yang melatih psikomotorik anak sekaligus membangun keakraban seperti bermain bola kaki atau lempar bola.
Dengan bermain bersama mereka, maka kan tumbuh penghormatan yang tercipta karena kasih sayang. Bukan karena ketakutan dan paksaan.[]
Mabsus Abu Fatih
Tanggapan Anda
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar