Minggu, 22 Mei 2016

20 Faktor Penghambat Jodoh


Abu al-Ghifari dalam bukunya Bila Jodoh Tak Kunjung Datang menyebutkan beberapa hal yang menjadi faktor keterlambatan dalam mendapatkan jodoh. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Ada dua puluh faktor. Apa saja faktor-faktor itu? Berikut saya sarikan dari buku tersebut dengan sedikit penjelasan yang diperlukan.
Pertama, Doktrin Keluarga.  Biasanya ini terjadi dalam tiga bentuk (1) orang tua selalu tidak setuju dengan pasangan pilihan anak dan orang tua memiliki alternatif dan pilihan lain (2) orang tua sengaja memaksakan keinginannya kepada anak yang tidak disukai anak (3) orang tua mengharuskan anaknya menikah dengan pasangan yang memiliki syarat-syarat tertentu.
Kedua, Adat istiadat untuk tidak mendahului kakak. Adat ini jelas bertentangan dengan Islam, bahkan dalam beberapa kasus justru ketika kakak didahului adiknya, justru lebih cepat mendapatkan jodoh karena terdorong oleh semangat untuk segera menikah.
Ketiga, Idealis (terlalu banyak syarat). Biasanya di kalangan wanita terpandang, mereka memasang syarat-syarat tertentu yang sok ideal dan cenderung mengesampingkan nilai-nilai Islam. Syarat-syarat itu biasanya berkaitan dengan faktor kelincahan, inteligensi, latar belakang keluarga, status ekonomi orang tua dll.
Keempat, problem ekonomi. Belum mendapatkan pekerjaan atau belum berpenghasilan tetap menyebabkan ribuan laki-laki memilih melajang meskipun usia telah melewati kepala tiga. Pada saat yang sama di kalangan orang tua pun umumnya mensyaratkan berpenghasilan tetapbagi calon menantunya. Padahal justru dengan menikah itulah seseorang bisa menjadi kaya.
Kelima, kurang pergaulan.
Keenam, Pengaruh Budaya Barat. Pengaruh itu adalah adanya anggapan bahwa menikah muda merupakan hal yang sangat menyiksa.
Ketujuh, Selalu merasa belum dewasa (belum siap) meski dari usia sudah berkepala tiga.
Kedelapan, Egoisme ekstim / berlebihan. Orang semacam ini misalnya memiliki karakter pemarah, sinis, selalu ingin menang sendiri dan tidak mau merubah sikapnya demi lingkungan dan persahabatan.
Kesembilan, Penampilan yang kontras / tidak menarik. Misalnya berpakaian jeans bolong, rambut panjang dan bertatto. Umumnya masyarakat Indonesia menilai penampilan tersebut negatif meski secara kepribadian tidak seperti penampilannya.
Kesepuluh, Minder. Ini biasanya terjadi karena anak terlalu didikte dan selalu disalahkan oleh orang tua. Biasanya orang minder cenderung menyendiri dan pendiam. Umumnya, laki-laki tidak menyukai tipe seperti ini. Apalagi wanita, umumnya antipati terhadap lelaki yang minder.
Kesebelas, Overacting. Biasanya ingin selalu diperhatikan, sok tahu, senang dipuji, berdandan sangat berlebih dan umumnya dipandang rendah, apalagi biasanya orang model overacting mudah dirayu.
Keduabelas, Trauma Masa Lalu. Hal ini disebabkan karena dulunya terlalu mudah jatuh cinta dan terlalu mudah menerima wanita / laki-laki lain, namun ditengah jalan ia disakiti dan kejadian tersebut sering berulang, hingga menyebabkan trauma.
Ketigabelas, Keterlanjuran. Terlanjur yang dimaksud di sini adalah terlanjur menyerahkan kehormatannya kepada kekasihnya. Dia berharap dengan pengorbanannya, kekasihnya akan setia tapi malah sebaliknya.
Keempatbelas, Wajah bermasalah. Pada umumnya wajah adalah hal pertama yang diperhatikan. Umumnya wanita cantik akan menjadi incaran pria. Pun demikian halnya bagi laki-laki yang rupawan akan menjadi incaran wanita.
Kelimabelas, korban perkosaan. Orang yang menjadi korban perkosaan merasa tidak suci lagi ddan merasa ragu menghadapi lawan jenis.
Keenambelas, cacat tubuh. Cacat dalam hal ini bisa fisik atau psikis (misalnya, secara fisik dewasa, tapi mentalnya masih seperti anak-anak)
Ketujuh belas, tuntutan studi. Pendidikan sangat penting, namun jika pendidikan menjadi alas an untuk menunda pernikahan, tidak sesuai dengan Islam apalagi jika usia telah cukup untuk menikah. Bahkan sering terjadi karena gejolak birahi, akhirnya terjadi perzinaan saat mereka menempuh studi. Menikah sambil studi adalah lebih baik daripada zina sambil studi.
kedelapanbelas, tuntutan karier. Di lembaga tertentu atau di sebagian perusahaan swasta ada yang mensyaratkan tidak menikah dulu untuk beberapa tahun tertentu atau karena tuntutan karier di luar negeri.
kesembilanbelas, aturan agama dan kepercayaan tertentu. Ada di kalangan Kristen Katholik, mereka yang telah mengabdikan dirnya menjadi pelayan tuhan, tidak diperkenankan menikah. Ada juga di kalangan islam dari sebagian kelompok sufi tidak membolehkan menikah.
Keduapuluh, berkelamin ganda. Ada orang-orang yang seolah-oleh berkelamin ganda padahal sebenarnya tidak. Sebut saja mereka adalah waria, banci atau bencong yang memilih tidak menikah karena problem ini.
Menurut penulis buku tersebut, Abu al-Ghifari, faktor-faktor tersebut menunjukkan bagaimana kuatnya dominasi adat dan kejiwaan sebagai penghalang seseorang mendapatkan jodoh. Sementara itu, aturan-aturan Islam yang notabene Allah SWT menjadi kabur di mata masyarakat.
Sedikit tambahan dari saya (Mabsus), jika diperhatikan keduapuluh faktor tersebut, didominasi oleh hal-hal yang berada pada wilayah yang dikuasai oleh manusia, kecuali pada faktor keempat belas, wajah bermasalah, kelimabelas korban perkosaan dan faktor keenambelas, cacat tubuh, yang mana ketiga faktor ini kita tidak bisa mengelak, karena diluar batas kemampuan manusia (takdir), sehingga semestinya kita terima dengan ikhlas. Semoga menjadi kebaikan untuk kita. Adapun menjadi korban perkosaan bisa disebabkan karena dua hal. Salah dalam bergaul sehingga menjadi korban perkosaan, atau bergaulnya sudah benar namun kemudian menjadi korban perkosaan.
Solusi yang ditawarkan oleh penulis buku dalam menjemput jodoh dalam buku tersebut, sangatlah bagus, yaitu dengan dengan menguatkan iman, memperkaya diri dengan ilmu, meningkatkan nilai fisik dan penampilan serta bergaul dengan orang-orang baik.
Allahua’lam bi showaab.
Mabsus Abu Fatih

Disarikan dari buku “Bila Jodoh Tak Kunjung Datang” karya Abu al-Ghifari, (Bandung:Mujahid Press), 2004.

Sumber gambar : bintang.com
Tanggapan Anda
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar